<
 
Home Nasional Otonomi Politik Ekonomi Hukrim Sport LifeStyle Metropolis Pendidikan Internasional Indeks
 
Begini Skenario Lumpuhkan 997 Petani Sawit, Kapolri Harus Berantas Mafia Tanah di Sektor Perkebunan
Senin, 14-06-2021 - 10:56:47 WIB
TERKAIT:
 
  • Begini Skenario Lumpuhkan 997 Petani Sawit, Kapolri Harus Berantas Mafia Tanah di Sektor Perkebunan
  •  

    Ancaman kriminalisasi terhadap Ketua Koperasi Petani Sawit Makmur (Kopsa-M), Desa Pangkalan Baru, Siak Hulu, Kampar, Riau, yang sedang memperjuangkan hak-hak kolektif 997 petani, semakin meningkat setelah Kopsa-M bersama Aliansi Keadilan Agraria-SETARA Institute melaporkan dugaan korupsi di PTPN V ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 25 Mei 2021, dan Laporan dugaan tindak pidana penyerobotan lahan ke Bareskrim Polri pada 27 Mei 2021, yang diduga melibatkan perusahaan tertentu, yang saat ini beroperasi tanpa izin atau ilegal di lahan seluas 400 hektar milik petani. Ancaman kriminalisasi ini dilakukan oleh Polres Kampar dengan me-reaktivasi kasus yang direkayasa oleh pihak yang terganggu.

    Proses kriminalisasi bermula dari penolakan anggota Kopsa-M terhadap surat yang disampaikan seseorang berinisial HTP kepada semua anggota Kopsa-M tertanggal 25 September 2020, berisikan permintaan dirinya untuk menjadi Ketua Kopsa-M periode 2020-2021. Anggota Kopsa-M menduga HTP, yang pernah dipenjara karena kasus penyerobotan lahan dan pemalsuan surat tanah milik keluarga petinggi negeri ini, memiliki i’tikad tidak baik karena ingin menutupi dugaan penyerobotan Kebun petani Anggota Kopsa-M yang dilakukannya serta menguasai seluruh kebun yang dikelola oleh Kopsa-M saat ini.

    Di tahun yang sama, masuklah seseorang berinisial HST yang mengaku sebagai pengacara dan anggota Kopsa-M dengan memalsukan identitas anggota Kopsa-M  lainnya untuk memperoleh kuasa dari Pengurus Kopsa-M. Alih-alih memberikan nasehat hukum dan melakukan upaya-upaya hukum, HST justru melakukan demonstrasi di lahan milik petani yang dikuasai perusahaan tertentu.  

    Selanjutnya, pada 15 Oktober 2020 HST menunjukkan kepada publik bahwa dirinya mendapat izin dari seseorang yang diklaim sebagai Kapolres Kampar untuk melakukan demonstrasi di lahan petani Anggota Kopsa-M yang dikuasai oleh PT. LH milik HTP di Desa Pangkalan Baru, Siak Hulu, Kampar.

    Pada tanggal 15 Oktober 2020, sekira pukul 18.06. Wib. bersama sekira 400 orang, HS memasuki lahan yang dikuasai PT. LH, melalui jalan desa dimana Kantor Polsek Siak Hulu berada, dan bertemu dengan Kepala Desa setempat berinisial YE, seperti pernyataan yang bersangkutan di banyak media massa. Pergerakan massa di tengah pandemi Covid-19 dibiarkan oleh YE selaku Kepala Desa setempat dan Polsek Siak Hulu tanpa melakukan pencegahan apapun.

    Di tengah lokasi, HST beserta rombongannya mematikan lampu dan menyuruh orang-orang yang diduga karyawan PT. LH keluar dari barak/mess dan menuju Kantor Kepala Desa. Karena kondisi hujan, karyawan baru bisa kembali di pagi harinya dan bekerja seperti biasa. Jadi, narasi tentang perusakan dan penjarahan secara bersama-sama adalah cerita fiktif yang sengaja dibuat dan diatur secara sistematis dengan tujuan seolah-olah Ketua Kopsa-M yang menjadi otak pelaku perusakan dan penjarahan, sehingga mudah untuk dilumpuhkan dan Kopsa-M beralih kepemimpinan kepada pihak HTP dan orang-orang yang terlibat dalam penyerobotan lahan petani anggota Kopsa-M.

    Selanjutnya, peserta aksi keluar dari lahan petani yang dikuasai PT. LH dan menunggu di suatu tempat. Sedangkan di tempat terpisah HST dan pengacara PT. LH berinisial P, manajer berinisial  KR, perwakilan HTP berinisial ES, dan beberapa orang diduga anggota Polri, duduk bersama sambil meminum kopi dan bercengkrama akrab sekira pukul 02.00 dini hari. Setelah pertemuan tersebut HS kembali menemui peserta aksi di lokasi yang menjadi titik kumpul untuk membagikan uang.

    Keesokan harinya, pengacara PT. LH berinisial P melakukan pelaporan dengan Laporan Polisi Nomor: LP/332/X/2020/Riau Res Kampar tertanggal 16 Oktober 2020. Berbekal LP ini, pengacara PT. LH melakukan penggiringan opini dan tuduhan fitnah yang tidak berdasar bahwa salah satu pengurus Kopsa-M membagikan uang di dalam mobil dekat lokasi aksi termasuk berulang kali melakukan pembunuhan karakter atas Ketua Kopsa-M. Bagaimana mungkin, pernyataan-pernyataan itu muncul sebelum penyelidikan dilakukan oleh institusi kepolisian. Di sinilah niat dan tindakan melumpuhkan Ketua Kopsa -M semakin nyata.

    Dalam perkembangan selanjutnya, penyidik Polres Kampar mengambil peran aktif dalam upaya kriminalisasi ini dengan melakukan pemeriksaan secara tidak profesional. Upaya kriminalisasi sebagaimana digambarkan di atas, merupakan salah satu modus mafia tanah pada sektor perkebunan dengan menggunakan instrumen hukum yang melibatkan oknum PTPN V sebagai bapak angkat Kopsa-M, yang membuat kebun gagal dan diduga menjual sebagian kebun anggota Kopsa-M kepada korporasi PT. LH.

    Atas dasar itu, Aliansi Keadilan Agraria-SETARA Institute kembali mendesak Kapolri untuk mengambil tindakan nyata dalam memberantas mafia tanah termasuk mencopot Kapolres dan Kasat Reskrim Polres Kampar yang bekerja tidak profesional. Aliansi juga mendesak agar Kapolri memberikan dukungan nyata pada perjuangan 997 petani yang menjadi korban mafia tanah dengan segera memproses laporan Aliansi Keadilan Agraria-SETARA Institute di Bareskrim Polri.[]

    Narahubung:

    Disna Riantina (Pengacara Publik, Koordinator Tim Advokasi Keadilan Agraria-SETARA Institute):  0812 9059 5431

    Erik Sepria (Pengacara Publik, Anggota Tim Advokasi Keadilan Agraria-SETARA Institute): 0812 6608 0992 (rilis)




     
    Berita Lainnya :
  • Firdaus-Ayat Cahyadi Paparkan Keberhasilan Satu Dekade Memimpin Kota Pekan Baru
  • Dituding Menjadi Provokator Aksi Masa, Ketua Koptan berikan Klarifikasi
  • Setelah Dilaporkan Ke KPK, Elit PTPN-V Tinjau Kebun Kopsa M, Ada Apa?
  • Koptan Pebadaran minta DPRD Riau kaji ulang hasil rapat bersama Kopni-SL
  • Antony Hamzah Tegaskan Manajemen KOPSA M Sangat Transparan, Berikut Faktanya
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
    + Indeks Berita +
    01 Firdaus-Ayat Cahyadi Paparkan Keberhasilan Satu Dekade Memimpin Kota Pekan Baru
    02 Dituding Menjadi Provokator Aksi Masa, Ketua Koptan berikan Klarifikasi
    03 Setelah Dilaporkan Ke KPK, Elit PTPN-V Tinjau Kebun Kopsa M, Ada Apa?
    04 Koptan Pebadaran minta DPRD Riau kaji ulang hasil rapat bersama Kopni-SL
    05 Antony Hamzah Tegaskan Manajemen KOPSA M Sangat Transparan, Berikut Faktanya
    06 KOPSA Saling Berkoordinasi untuk Menidaklanjuti Arahan yang Disampaikan Disdagkop-UMK Kampar Terkait
    07 Begini Skenario Lumpuhkan 997 Petani Sawit, Kapolri Harus Berantas Mafia Tanah di Sektor Perkebunan
    08 Hikmah Anak Kuntu yang Viral, Syahrul Aidi Minta Pengusaha Perhatikan Kesejahteraan Karyawan
    09 Laporkan PTPN V ke KPK dan Bareskrim Polri, Petani dan Pengurus Koperasi Hadapi Tekanan dan Ancaman
    10 Rumah Yatim Bagikan Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Prasejahtera Kelurahan Sungai Sibam Pekanbaru
    11 Jubir Satgas Covid-19 Ingatkan Kabupaten Kota di Riau Serius Tangani Covid-19
    12 Kapolri Pastikan Pendampingan Edukasi Dana Desa, Sanksi Menanti Jika Terjadi Penyimpangan Anggaran
    13 GMMK Riau Serahkan Donasi untuk Palestina Lewat KNRP
    14 Kasus Aktif Terkonfirmasi Covid-19 Riau Naik Jadi 4.850 Kasus
    15 Tiga Warga Pekanbaru Reaktif Rapid Antigen saat Razia Pekan Lalu Ternyata Positif Corona
    16 Tingkatkan Persentase Vaksinasi Lansia, Dinkes Riau Gandeng Komunitas
    17 70 Napi Beragama Budha di Riau Dapat Remisi Waisak, 1 Langsung Bebas
    18 DPC Patri Rohil Ajak Warga Dukung Vaksinasi Covid-19
    19 Angka Kematian Covid-19 di Brasil Tembus 450 Ribu Kasus
    20 Walikota Pekanbaru Tinjau Vaksinasi Ribuan Warga dan Jemaat di Gereja HKBP
    21 Bahas Masalah dan Solusi, BPPW Riau Rapat Progres MSMIP Pekanbaru
    22 PTPN V Dilaporkan ke KPK, Dugaan Cetak Kebun Gagal dan Alihkan Tanah Negara
     
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © Kompenews.com